tol pekalongan
Daily life, Pekalongan

Curhat warga terdampak tol Pekalongan Batang

Curhat warga terdampak tol transjawa di Pekalongan-Batang. Aku senang saat setahun lalu tanah-tanah mulai dipasangi patok. Katanya proyek tol trans Jawa yang lewat Pekalongan akan siap dibangun. Aku membaca berita soal wacana tol ini hampir sepuluh tahun lalu saat masih tinggal di asrama. Ketika sekarang terealisasi di 2017, antusias banget tentunya. Nggak pernah nyangka jika dampak proses pembangunan tol bagi kami warga Pekalongan bisa semasif sekarang. Ini murni curhatku, sebagai warga Pekalongan yang selama beberapa bulan ini harus sangat hati-hati melewati jalan.

Rusaknya Jalan arteri di Pekalongan dan Batang

Ruas jalan yang paling sering aku lewati adalah Warungasem-kota Pekalongan. Kondisinya parah banget, lebih mengerikan rusaknya dibanding jalanan desaku. Awalnya cuma lubang lama-lama jadi kubangan dan struktur jalan bergelombang. Ruas jalan tersebut menghubungkan kota Pekalongan dan kabupaten Batang dimana setiap hari ngga cuma dilewati angkot namun juga bus. Penyebab kerusakan ruas jalan di sepanjang kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan adalah karena banyaknya truk pengangkut tanah material proyek tol.

Curhat warga yang terdampak tol transjawa pekalongan-batang

Baca: Pekalongan akan dilewati tol Trans Jawa

Banyaknya Kecelakaan

Lewat sosial media aku tahu bahwa di kabupaten Pekalongan bagian barat yaitu Sragi dan Bojong, warganya pernah protes terkait hal ini. Bahkan truk pengangkut tanah sampai ngga boleh lewat lho. Alasannya adalah karena tanah yang dibawa tersebut berceceran. Jika ngga hujan, jadi debu. Jika hujan mengguyur sebentar saja, licinnya minta ampun tuh jalanan. Kecelakaan sudah kerap terjadi di sana.

Minggu lalu aku merasakan sendiri bagaimana ngerinya lewat jalanan penuh lumpur usai hujan. Motor maticku hanya berani digass 10 km/jam sambil kaki ‘njagani’ khawatir kepleset. Bodo amat dengan truk di belakang yang klakson-klakson, paling penting selamat sampai tujuan. Sebenarnya sudah ada sih mobil pembersih tanah gitu yang bawa tangki air, tapi masih kurang jumlahnya.

Mendadak macet

Jika truk tanah yang lewat, masih bisa lah motor buat nyalip meski harus sangat hati-hati. Bagaimana dengan mobil? Ya harus antre, terlebih jika jalan tersebut penuh lubang dan lumpur. Macet tak terhindarkan sudah sering terjadi akhir-akhir ini.

Paling sengsara jika sudah ketemu truk besar pengangkut batu split. Fix, habis sudah satu jalanan mereka kuasai. Dua minggu lalu aku sedang mengarah ke selatan dari perempatan pasar warungasem. Ternyata di depanku sudah ada tiga buah ‘truk molen’ pengangkut batu split proyek tol. Kupikir truk itu bakal berhenti di desa Masin, eh ternyata masih terus ke selatan sampai di pabrik split wika desa Cluluk.

Eksploitasi tanah secara legal

Material proyek jalan tol berupa tanah, diambil dari wilayah selatan kabupaten Pekalongan dan Batang. Ngeri sih lihat bukit-bukit digerus alat berat gitu. Maksudnya, ngeri nantinya dampaknya jika hujan terkait longsor dan banjir. Ini semua legal, ada SOP nya, ada ijinnya, tapi ya tetep aja ngeri.

Tanah untuk proyek tol transjawa di pekalongan

Bagi pemilik tanah, dia sih dapat kompensasi besar jika dibeli untuk proyek ini pastinya. Tapi kan, ini bukan hanya soal sekian kubik bagian alam dipinjamkan begitu saja. Kaitannya lebih luas dan masif lagi. Tanah sudah dieksploitasi secara membabi buta, semoga semua akan baik-baik saja kedepannya.

Jalan rusak masih bisa ditambal dan diperbaiki dalam hitungan bulan atau minggu. Bagaimana dengan alam yang rusak? Bukit yang terpotong dengan paksa?

Membayangkan Mudik 2017

Saat aku menulis curhat ini, masa mudik kurang dua bulan lagi. Dengan kondisi tol yang masih berupa penyangga, ngga mungkin kekejar deh ruas Pekalongan ini. Setiap tahun, selalu ada penumpukan arus mudik di Pantura Pekalongan. Jalur alternatif via jalan kabupaten selalu jadi solusi para pemudik. Bagaimana jika jalan alternatif ini hancur seperti sekarang?

Optimisme warga yang terdampak tol Pekalongan

Aku nulis semua ini bukan pesimis, ya hanya ingin berbagi saja rasanya sebagai warga yang ternyata ikut terkena dampak meski secara tidak langsung. Warga yang terdampak langsung itu misal yang tanah atau rumahnya tergusur. Mereka dapat kompensasi sesuai kesepakatan. Bagi warga lain sepertiku, hanya berharap agar proyek tol Pekalongan Batang segera selesai.

2 Comments

  1. Pembangunan itu memang meski terlihat baik tapi tetap saja pasti ada cerita sedih dibaliknya ya.
    Aku sudah beberapa tahun terakhir ini mudik ke kebun milik nenek di Sumedang terpaksa menikmati pemandangan yang dulunya sawah berganti jadi calon tol. Mungkin kalau tolnya sudah jadi aktivitas anak-anak kecil yang biasanya berlarian di kebun nanti jadi menghitung kendaraan yang lewat. Sedih sih. Tapi mau gimana lagi

    1. demi kemaslahatan yang lebih luas…

Leave a Reply

Required fields are marked*