limun-oriental-cap-nyonya
Food, Heritage, Kuliner, Oleh-oleh, Traveling, wisata Pekalongan

Ternyata Limun Oriental Cap Nyonya Sudah Ada Sejak 1923

Tak semua orang Pekalongan pernah meminum limun oriental, apalagi yang merupakan rakyat jelata semacam simbahku. Dulu, hanya kalangan priyayi yang menyajikan limun di mejanya terutama sata lebaran tiba. Siang itu Pekalongan sangat panas, aku memilih duduk di tepian taman batik depan Museum. Lama tidak sketching, kebetulan ada objek menarik yaitu bekas kantor gula pulau Jawa yang sekarang menjadi museum batik. Semakin lama, rasa haus tak tertahankan lagi. Aku ingat, jika kunjunganku tahun lalu ke kedai limun oriental cap nyonya sempat gagal. Selesai dengan sketch museum, kakiku berjalan 50m ke belakang batik TV. Ah, pas rupanya kehadiranku hari itu sebab sedang ada proses produksi limun legendaris tersebut di bagian belakang kedai.

Perabot Vintage di kedai limun oriental

Setahun lalu aku pernah menyambangi pabrik sekaligus kedai limun oriental. Tapi waktu itu kok kebetulan lagi libur. Logo si nyonya berwarna biru tua dengan latar belakang kuning muda tergores di pagar depan. Sebuah rumah bergaya campuran Tionghoa dan Belanda yang merupakan rumah asli pemilik brand limun oriental cap nyonya nampak anggun dengan cat putih gading. Kedai sekaligus pabrik limun terletak di samping rumah utama.

Limun oriental cap nyonya

Usai memarkirkan motor di halaman yang cukup untuk bermain bulutangkis, aku masuk ke kedai limun. Dulu mungkin bagian depan pabrik ini digunakan sebagai kantor atau tempat menerima tamu. Sekarang kita bisa duduk santai di ruangan ini layaknya di kedai atau kafe kecil.

Perabot vintage yang memang asli dari jamannya berjejalan di ruangan itu. Dua meja dengan kursi, telepon tua, timbangan tua, mesin tik, nampak bukan sesuatu yang dibuat-buat. Generasi ke-lima dari pemilik limun oriental sepertinya mulai menata kembali perabot lama para leluhur di kedai ini.

Melihat Proses produksi limun orietal

Belum puas sebenarnya menikmati nuansa jadoel di kedai limun, tapi sudahlah nanti saja kulanjutkan. Dengan ditemani mas Bernardi yang sekarang mengelola limun oriental cap nyonya, aku dipersilakan melihat proses produksinya.

Pabrik limun oriental

Pabrik limun yang tak begitu luas ini mengingatkanku pada kondisi pabrik teh Jolotigo. Ya, sama-sama sisa jamana Belanda. Mesin semi automatic yang usianya pasti lebih tua dariku berkumpul pada sebuah ruangan di smaping area penyimpanan krat limun.

Suara ‘klontang-klontang’ yang terdengar dari depan tadi ternyata berasal dari proses packaging limun. Campuran sirup dan gas Co2 disatukan dan menghasilkan minuman soda ala-ala yang katanya lebih aman daripada soda biasanya.

Oh limun itu, orson ya…

Bukan, limun beda dengan orson. Kami menggunakan gula murni, jadi…limun ini nggak akan menimbulkan sakit tenggorokan.

Di Pekalongan atau mungkin daerah lain, sirup yang bersoda itu namanya orson. Ternyata sirup uap limun oriental berebda dengan orson kebanyakan. Proses produksi masih mempertahankan cara  dari leluhur Njoo Giok Lien yang memulai usahanya pada 1923. Bukan hanya mesin,  resepnya pun berasal dari Belanda sana. Ya sesuai lah, dulu kan pasarnya memang buat para kompeni yang ada di Pekalongan dan sekitarnya.

Biar lebih jelas, nih…tonton videonya deh.

Kesan Pertama Minum Limun Oriental Cap Nyonya

Ini sebotolnya berapa mas?

Kalau yang rasa nanas, frambozen, mocca coffe, sirsak, jeruk, harganya 7 ribu. Yang soda 5ribu. Tapi kalau minumnya di sini kan nggak sama botolnya, yang rasa-rasa tadi cukup 5ribu saja.

Kesan pertama meminum limun oriental adalah segar tak terkira. Bagaimana tidak, es berpadu dengan kesegaran limun tepat mengalir di tenggorokan sata udara panas. Karena penasaran, aku juga membeli limun tersebut buat dibawa pulang ke rumah.

Sejarah Limun Oriental

Mas Bernardi adalah generasi ke-lima dari Njoo Giok Lien. Dulu leluhur beliau tidak hanya memproduksi limun lho ternyata. Sempat ada rokok cap Delila hingga tahun 70an. Juga ada kopi dan teh botol cap kapal. Oiya, merek kopi kapal ini dibeli pengusaha asal Surabaya dan menjadi merek kapal api. Itu lho, yang sekarang jadi PT Santos Jaya Abadi.

Lho kok ada krat tulisannya teh botol oriental?

Iya, saat ini produk teh botol oriental masih ada dengan produksi by order saja.

Minuman Orang Kaya Jaman Dulu

Sesampainya di rumah, aku memasukkan limun ke kulkas. Malam harinya, kubuka botol berisi limun rasa nanas tersebut saat semua keluarga sedang berkumpul. Simbah dan bapakku mulai bercerita tentang limun ini.

Kalau ada orang sakit dan minta minum limun, itu tandanya sudah parah banget dan nggak ada harapan

Seketika aku ngakak mendengar cerita dari simbah. Limun bukanlah minuman sehari-hari seperti sekarang. Ini minuman mewah yang hanya dirasakan kaum priyayi pada masa dulu. Jadi, bagi simbah…inilah pengalaman pertamanya minum limun oriental cap nyonya sepanajng hidup di Pekalongan.

Cara Membeli Limun Oriental

Kalau kamu penasaran, sini aku tunjukin alamat pabrik limun oriental cap nyonya. Lokasinya sekitar 50 m belakang museum atau batik tv. Bisa juga sih dari arah rutan Pekalongan. kawasan itu namanya kampung bugisan. Disitu kamu bisa membeli limun oriental sesuai selera atau bahkan melihat proses produksinya.

limun oriental

Kalau mau lebih praktis, bisa ke kafe yang depan carefour Pekalongan. Ini masih baru, coba aja kesitu ya…sekalian belanja.

Berkunjung dan mengetahui sejarah limun oriental menambah rasa takjubku dengan konsep usaha orang Tionghoa atau Arab. Meski kembang kempis, brand yang sudah dilahirkan para leluhur tetap dijaga. Warisan heritage bukan hanya berupa bangunan fisik, kuliner seperti ini juga patut kita ketahui.

8 Comments

  1. Sempat beberapa kali ngicipi limun ini ketika ada tamu dari luar kota…namun baru bbrp waktu lalu melihat proses pengolahannya.. Ternyata sederhana yaa..
    Semoga minuman ‘bersejarah’ ini tetap lestari

    1. Hihi iya, kita nyonya nyonya minum limun bersama

  2. Suka bangeet sama meja kursinya itu, jadul! Jadi ingat lebaran di rumah nenek di desa pas masih SD dulu..
    Sekarang susah cari minuman limun kayak gini, mungkin karena peminatnya bersaing sama soft drink modern hehe..

    In, klo masuk ke pabrik Limun lihat prose produksinya gimana caranya, jadi pengen terbang ke Pekalongan 😀

    1. langsung saja mba ke lokasi, itu pabriknya menyatu smaa rumah…ngga perlu tiket2an hehe. hayukkk dolan pekalongan

  3. Wahahaha ternyaata sudah tua banget. Belum lagi Indonesia merdeka, sudah berdiri.

    1. iya, jaman orang Pekalongan entah masih seperti apa

  4. adit

    Barusan kesana,ternyata kalo Malem tutup y ga jualan,

    Salam kenal y dik nurul,jangan lupa ku tunggu d pasar kedungwuni

    1. hahhaha iya nutup

Leave a Reply

Required fields are marked*