ngetrip brug loji pekalongan
Heritage, Pekalongan, Traveling, wisata Pekalongan

Ngetrip ke Pekalongan Harus ke Brug Loji

Setiap mendengar kata loji, aku pasti terbayang freemansory dan iluminati. Dulu aku sempat berpikir mana mungkin di Pekalongan ada freemansory, mungkin loji di sini beda arti. Tahun lalu saat aku membaca buku Pekalongan yang (tak) Terlupakan, barulah misteri jembatan loji sedikit terpecahkan. Benar, lodge brug buatan Belanda yang sekarang menjadi cagar budaya di Pekalongan ini memang ada hubungan dengan gerakan freemansory kala itu. Kalau kamu ngetrip ke Pekalongan, wajib heritage walk ke spot jembatan loji.

Brug Loji Jaman Simbah

“wingi aku makan-makan nang warung lamongan cedak loji” tutur simbahku

“oh, lha berarti ono lampu warna-warni tah…”

“mboh, ora wani mrono, wedi”

Obrolan pada suatu malam itu membuka kisah Pekalongan tempo dulu. Simbah tinggal di daerah Pekalongan bagian selatan. Tidak ada pasar sebanyak sekarang, kalau mau beli ini itu ya harus ke pasar keplekan di kota Pekalongan. Berangkat habis subuh, jalan kaki membawa dagangan hasil bumi sampai warungasem. Dari warungasem kemudian dismabung delman hingga kota Pekalongan.

Tahun 50an, delman adalah moda transportasi yang cukup eksis. Maklumlah belum ada angkutan umum apalagi kendaraan pribadi seperti sekarang. Jika dibayangkan rasanya jauh banget dari warungasem ke kota Pekalongan.

Generasinya simbah masih percaya dengan cerita dari mulut ke mulut bahwa daerah loji itu dekat rumah setan yaitu tempat berkumpulnya pengikut freemansory. Makanya hingga sekarang, simbah masih cukup ngeri untuk berjalan-jalan di sekitar sana.

Berdirinya Brug Loji

Pekalongan punya pelabuhan besar juga sungai yang membentang hingga daerah pedalaman dimana hasil bumi melimpah. Jaman Belanda sekitar abad 18, jangan dibayangkan ada jalan aspal seperti sekarang ya. Akses sungailah yang paling utama untuk angkutan barang maupun manusia. Sungai Kupang membentang dari hulu di pegunungan rogojembangan hingga bermuara di kota Pekalongan adalah akses yang vital.

Orang Belanda memang jagonya urusan teknik sipil, makanya mereka berinisiatif mendirikan jembatan penghubung antara wilayah pesisir dan pedalaman Pekalongan. Entah nama aslinya apa, tapi dikenalnya ya brug lodge dengan pelafalan Jawa menjadi brug loji.

loji pekalongan

Konon pas proses pembuatan brug loji, ada sebuah peristiwa misterius. Si semen hanyut-hanyutan melulu, sampai akhirnya ada tukang dari pribumi yang bilang kalau sebaiknya bagian luar dari konstruksi dilapisi kanji. Benar saja, akhirnya solusi tersebut berhasil dan si tukang diberi penghargaan.

Brug Loji Kini

Alhamdulillah, tahun 2016 brug loji sudah lebih baik kondisinya. Ngerinya kan kalau jembatan tua seperti itu hanyut terbawa arus atau keropos sedikit demi sedikit. Saat malam tiba, lampu warna-warni menghiasi sisi jembatan membuat kesan syahdu. Brug Loji juga bisa dijadikan alternatif wisata malam di Pekalongan lho.

Baca: Wisata malam di Pekalongan

wisata malam pekalongan brug loji

Kawasan ini cocok banget kalau kamu mau hunting street photography atau sekedar heritage walk. Backgroundnya mau masjid, gereja, atau klenteng, bisa semua. Jembatan loji ternyata bisa mengikuti perkembangan jaman, dan itulah yang kita inginkan. jembatan loji pekalongan

yang tak kalah penting adalah kita ngerti bahwa bangunan fisik ini bukan sekadar rankaian batubata dan besi biasa. Ini cagar budaya yang menyimpan kisah bagi perkembangan sebuah daerah bernama Pekalongan yang kita cintai.

Ngetrip ke Brug Loji

Brug loji berlokasi di kawasan heritage walk Jetayu kota Pekalongan. Bisa sekali jalan lho sekalian ke museum batik, klenteng pho an thian, kantor pos lama, taman jetayu, dan limun oriental.

Dari stasiun ke arah utara ya, kamu bisa menggunakan becak biar lebih romantis dan berkesan heheh. Lokasinya gampang banget dicari, semua oaring Pekalongan pasti tahu…tapi google maps akan memandumu lebih baik.

Jangan ragu memasukkan brug loji ke list yang harus kamu kunjungi saat ngetrip ke Pekalongan.

Teks: Inayah | Foto: Irkham

8 Comments

  1. Pemandangan malam di Brug Loji cakeeeep….

  2. pengen ke pekalongan na

  3. Waaah, boleh juga tuh…, habis dari situ trus menikmati sego megono yang khas itu 🙂

    1. benaar, megono Usman dengan kopi tahlil nya dekt banget lho

  4. Kenapa dari dulu aku selalu memandang bruk loji itu seperti penghubung/pemisah antara zona pemerintahan dan kawasan perdagangan/pecinan ya?

    1. Akupun mba,,,haha

Leave a Reply

Required fields are marked*