ibukota kabupaten Pekalongan di kajen
Heritage, Pekalongan, sejarah, Traveling

Sejarah Lahirnya Kabupaten Pekalongan di Kajen

Sejarah Lahirnya Kabupaten Pekalongan di Kajen – Orang yang KTP-nya bukan Pekalongan kemungkinan besar belum tahu bahwa Pekalongan punya dua wilayah pemerintahan. Ada kotamadya yang berpusat di kota Pekalongan dan kabupaten yang berpusat di Kajen. Aku adalah warga kabupaten yang beruntung karena saat boyongan dari kota ke Kajen pada 2001 itu ikut meramaikan. Memang belum lama kami memisahkan diri dari kota Pekalongan. Pemilihan Kajen sebagai ibukota kabupaten ternyata punya latar belakang tersendiri.

Hari jadi kabupaten Pekalongan

Bulan Agustus selalu meriah di Kajen, tepatnya di alun-alun kabupaten Pekalongan. 25 Agustus merupakan hari jadi wilayah ini. Kemeriahan dipersembahkan dalam rangkaian acara yang melibatkan seluruh lapisan masyararakat. Ada pekan raya kabupaten Pekalongan atau kajen Expo, doa bersama, juga karnaval.

Tahun 1622, tanggalnya 25 Agustus atau 12 Rabiul Awal 1042 H kabupaten Pekalongan dilahirkan. Masa itu kabupaten Pekalongan berada dalam kekuasaan Mataram Islam di bawah pimpinan Pangeran Mandurorejo.

Meski sudah memisahkan diri, tanggal tersebut tetap dijadikan sebagai hari jadi. Bahkan acara arak-arakan pemindahan kabupaten dari kota juga dilakukan tepat pada hari jadi ke 379 yaitu 25 Agustus 2001.

Pendopo Kota Pekalongan

Aku masih ingat rasanya jinjit di seberang pagar pendopo alun-alun kota Pekalongan beberapa tahun lalu. Waktu itu ada acara pelantikan kepala desa dan aku hadir memeriahkan hahaha. Sebelum kabupaten pindah ke Kajen, pendoponya ya di sebelah selatan Alun-alun kota Pekalongan itu.

Arsitekturnya mengingatkanku pada bangunan-bangunan di Jogja atau Solo. Ya pantes sih, wong emang ini sisa kejayaan Mataram kok. Menurut para ahli sejarah, pendopo ini dibuat pada masa pemerintahan Adipati Notodirjo yaitu antara tahun 1879-1920. Selain digunakan sebagai rumah bupati juga dimanfaatkan sebagai paseban atau tempat aktivitas para pejabat pemerintahan.

Mengapa Ibukota Kabupaten di Kajen?

Proses pemindahan pusat pemerintahan kabupaten Pekalongan ke Kajen itu nggak kayak bikin candi hanya semalam. Bayangkan saja, keputusan Pekalongan punya 2 wilayah pemerintahan itu sudah lahir sejak 1986. Studi, pembebasan lahan, termasuk perancangan tata kota harus dipersiapkan dengan matang sehingga baru bisa pindah sepenuhnya pada 25 Agustus 2001.

pendopo-kabupaten-pekalongan
Di depan pendopo kabupaten Pekalongan

Pernah nggak sih berpikir mengapa ibukota kabupaten Pekalongan itu di Kajen, bukan Wonopringgo atau Kedungwuni saja? Aku juga baru tahu kalau sempat ada wacana ibukota kabupaten itu mau ditempatkan di Wiradesa.

Oalah pantes saja ya, di Wiradesa itu banyak kantor pemerintahan. Dulu setiap kali ada lomba di tingkat kabupaten ya lokasinya di wiradesa. Eh gini-gini aku ini sering mewakili kecamatan hahhaa, skip.

Wiradesa kan strategis banget, dilewati jalur Pantura. Masih banyak juga lahan bebas yang bisa dialihfungsikan untuk bangunan perkantoran kabupaten Pekalongan. Pada tahun 1986-1991, ada 10 gedung pemerintahan telah didirikan di Wiradesa.

Sayang sekali, wacana ini dimentahkan oleh pemerintah pusat. Pasalnya adalah, ada syarat jarak minimal antara 2 wilayah kabupaten atau kota yaitu 25km. Wiradesa ke kota Pekalongan hanya 5km saja lho.

bupati-pekalongan-asip
Bersama Bupati Asip Kholbihi

Kajen menjadi daerah potensial selanjutnya yang dilirik sebagai ibukota kabupaten sebab ketersediaan SDA nya yang masih luas. Memang aku sadari sih area pemerintahan kabupaten Pekalongan itu oke banget. Semua ngumpul jadi satu di wilayah seluas 39.9879 Ha tersebut yang meliputi 3 kampung yaitu Tanjungsari, Nyamok, dan Tanjungkulon.

Alun-alun Kajen terluas se-Indonesia

Bulan lalu saat aku hadir di rumah dinas bupati Pekalongan dalam acara Amazing Petungkriyono National Explore, pak Bup memaparkan bahwa alun-alun Kajen itu terluas se-Indonesia. Alun-alun seluas 5000 meter persegi ini kalau pagi view selatannya gunung yang indah banget lho. Di sebelah timur ada Mapolres Pekalongan. Pendopo dan rumah dinas ada di selatan, yaitu jalan Mandurorejo. Deretan perkantoran mengisi bagian utara, dan masjid Al-Muhtarom yang megah berada di sebelah barat.

masjid-al-muhtarom
masjid al-muhtarom

Pada sore hari, di pinggir alun-alun banyak berjajar pedagang jajanan yang enak-enak. Aku pernah nongkrong sore-sore selepas hujan di sana, syahdu banget ditemani pisang bakar keju.

alun-alun-kajen
alun-alun kajen

Ikon Tugu nol kilometer

Biasanya sebuah ibukota pemerintahan punya ikon dong ya. Nah Kajen ini punya tugu nol kilometer yang tak jauh dari alun-alun. Tugu ini sering dijadikan spot foto landscape karena memang fotogenik dari 360 derajat.

Kabupaten Pekalongan kampung halamanku, masih banyak hal yang baru kuketahui tentangmu. Semoga punya kesempatan menjelajah lebih luas dan lebih dalam. Perihal sejarah lahirnya saja aku baru tahu, belum lagi budaya dan potensinya. Dirgayahu ke 395!!

11 Comments

  1. Sudah tua juga ya usia Pekalongan. Orang tahunya ini kota batik.
    Baru tahu Kajen itu ibukota kabupaten Pekalongan 🙁

    1. iya, dengan motto kota santri

  2. Aku juga familiarnya ini kota batik lho mbak hehe. Kayanya suasananya masih sepi gitu ya Mbak?

    1. ga sepi sih, kalau asri iya.

  3. selain harus jaraknya 25km dari kota Pekalongan, apa ada alasan lain kenapa ibukota kabupaten di Kajen??
    mohon pencerahannya..

    1. Yang saya tahu baru itu, mungkin pejabat terkait lebih ngerti pertimbangannya. Yang penting, kurasa Kajen adalah pilihan yang tepat

      1. Kajen sbg ibu kota karen letaknya strtegis di tengah2 wilayah kab.Pekalongan

        Mungkin kareba letak Kajen,strategis berada ditengah Kab.Pekalongan.Sehingga warga wilayah kecamatan yang lain kl ngurus surat2 ke Kabupaten tidak jauh..

  4. Aku selalu berpikiran kalau namanya kabupaten itu ya agak menyepi gitu, jadi lebih cocok Kajen drpd Wiradesa sebagai ibukota. Ternyata memang ada aturannya ya. Titip pesen untuk pak bupati, mohon tidak pasang videotron segede gaban yang mblerengi di alun2 Kajen seperti alun2 Pekalongan, wes silu sakpore, norak pisan.

    1. hehhehe oke siap

  5. Wah ada pisang bakar keju, auuu…enak tuh.
    Yang jualan Kopi Petung itu di sebelah mana Nay? Kopiku habis nih. Mau nitip dong, kapan mau ke sna lagi?

    1. di RSUD deket pendopon ada, aku pulang awal oktober pas pekan batik. nanti beli ya, sekalian kopi tahlil ndak?

Leave a Reply

Required fields are marked*