Heritage, Pekalongan, sejarah, wisata Pekalongan

Kembali ke Masa Lampau Melalui Pintu Dalem Pekalongan

Tiga hari sebelum ramadhan tiba, suasana pasar Banjarsari kota Pekalongan lebih ramai dari biasanya. Semenjak pasar ini terbakar, pedagang menyebar di sekitar bekas lokasi Sentiling ini. Teriknya matahari membuatku menyingkir sebentar dari pengapnya aroma bumbu dapur. Sepertinya jalan belimbing yang lengang menarik untuk dinikmati. Sejenak aku berhenti saat berada di pertigaan samping gereja Santo Petrus. Inilah pintu dalem yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Mari kembali ke masa lampau, saat kawasan jalan belimbing ini menjadi pemukiman Pecinan di Pekalongan.

Catatan Ma Huan

Ma Huan adalah seorang Tiongkok muslim yang menulis Yingyai Shenglan, kronik perjalanan ekspedisi Cheng Ho pada abad ke-15. Pada abad ke-14, dia mengunjungi Pekalongan dan menyebutkan bahwa orang Cina sudah mendiami kawasan Sampangan. Sampangan adalah muara dari sungai Kupang yang kini dikenal dengan kawasan loji. Informasi ini aku dapatkan dari buku berjudul Pekalongan yang (Tak) Terlupakan.

Seperti bukan Pekalongan

klenteng pho an thian
Klenteng Pho An Thian

Penelusuran kawasan pecinan memang sebaiknya diawali dari depan klenteng, kamu akan merasakan hawa seperti bukan di Pekalongan. Pedestrian yang lebar di jalan belimbing memudahkanku mencari sudut terbaik memotret klenteng Pho An Thian. Klenteng berwarna mencolok ini telah berdiri sejak tahun 1882. Tak ada pagar tinggi yang menghalangi pandanganku menikmati arsitektur klenteng ini.

Baca: meramaikan imlek di klenteng pho an thian

Selepas dari klenteng, aku kembali menoleh ke belakang. Wow, sungguh indah. Klenteng pho an thian, gereja santo petrus, dan masjid Jetayu berada dalam koordinat yang sangat berdekatan. Betapa ini adalah harmoni yang layak disyukuri orang-orang di kota Batik?

pekalongan-from-drone
Pekalongan from above

Pintu-pintu indah

Cukup lama aku berhenti di seberang warung bubur ayam. Aku menikmati pintu-pintu indah kawasan jalan belimbing. Rasanya seperti ada magnet yang menarikku secara kuat lalu menghadirkan hawa masa lampau. Masa dimana tak banyak motor dan mobil di Pekalongan, saat kawasan pasar Banjarsari di balik jalan ini adalah sentra ekonomi terbesar.

wisata-heritage-pekalongan
Pintu yang indah

Sebuah rumah berlantai dua yang tampak kosong mengingatkanku pada rumah di Kampung Kapitan Palembang. Tentu rumah ini cukup mewah pada masanya. Terbuat dari kayu dengan ornamen khas Tionghoa yang apik. Aku membayangkan dulu rumah ini sering dijadikan tempat pertemuan sebab cukup luas dibanding rumah lainnya.

wisata-heritage-pekalongan
Rumah besar

Ada yang berbeda ketika perjalananku sudah hampir mencapai ujung jalan belimbing. Arsitektur Eropa sangat terlihat dari rumah bercat putih gading di depanku. Bangunan utama dengan teras lebar, serta bangunan besar dengan ornamen kayu di sampingnya membawa imajinasiku ke film-film berlatar Eropa. Inilah rumah Jaksa pada masa Hindia Belanda. Entah kini ditempati siapa, sepertinya kosong.

Kembali ke Masa Lampau Melalui Pintu Dalem Pecinan Pekalongan
Rumah Jaksa

Pecinan Yang Kampung Cina

Jika kita terbiasa menyusuri Pecinan di kota lain, mungkin akan kaget dengan Pecinan di Jalan Belimbing ini. Tidak ada hiruk pikuk pedagang atau toko-toko. Jalan belimbing sejak berdirinya sebagai Chinese wijk merupakan diperuntukan untuk pemukiman. Hawa kampung Cina sangat terasa di sini. Area perdagangan dipusatkan di Jalan hasanudin, jalan sultan agung, dan sekarang merembet ke jalan mangga.

Wisata Yang Essensial

Penikmat jalan-jalan santai dan fotografi maupun sketch pasti suka deh ke jalan belimbing. Ini merupakan jenis wisata yang masih essensial diantara menjamurnya wisata artifisial. Jika kamu dari luar kota, jalan belimbing mudah dijangkau dari mana saja. Mau dari Pantura bisa, stasiun kereta juga tak jauh. Urusan menginap, ada banyak sekali pilihan di kota Pekalongan. Biar kesan heritagenya makin terasa, bisa memilih hotel the Sidji yang menawarkan suasana asli tempo doeloe Pekalongan.

Kembali ke Masa Lampau Melalui Pintu Dalem Pecinan Pekalongan
the sidji

Berwisata tak harus ke tempat yang warna-warni, kekinian, ataupun penuh kerumunan orang. Cobalah sekali-kali menghirup hawa yang lain dengan menapaki kawasan heritage, Pintu dalem jalan Belimbing Pekalongan salah satunya.

8 Comments

  1. Rumah jaksanya horor Nay wkkwkw
    Aku pengen nginep di the sidji suka banget sama bangunannya

    1. nginep dong,,,piknik tipis tipis

  2. saya sendiri sebagai orang Pekalongan malah tak tahu banyak tentang sejarah tempat ini. Makasih infonya ya mba Inayah. Kapan-kapan saya mau jalan jalan ke sana biar bisa mengamati dari dekat seperti apa kampung pecinan ini

    1. yups…biasanya karena keseringan lewat malah jadi kurang merhatiin. aku juga baru ngamatin banget pas jalan kemarin

  3. Keren Nay..tulisanmu seakan membimbingku menyusuri jln belimbing tempo dulu.. Sukses yaa…

    1. semoga pesannya tersampaikan

  4. ngga sekalian melipir ke jalan salak juga nih ? bair makin seru ada apa aja disana ^^v

    1. fokus ke satu persatu jalan. nanti bikin peta wkkwkw

Leave a Reply

Required fields are marked*